Perkembangan teknologi informasi dalam era globalisasi membawa pengaruh perubahan yang signifikan dalam membentuk watak
dan kepribadian seseorang, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Dunia
pendidikan mempunyai tantangan yang sangat berat karena dituntut untuk dapat
melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya mampu menguasai teknologi dan
informasi agar dapat bersaing di dunia internasional akan tetapi juga menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
berbudi pekerti luhur sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. “Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggungjawab”.
Di sisi lain minat siswa terhadap materi sifat-sifat wajib bagi Allah diakui sangat minim, mereka lebih suka dengan mata pelajaran berbasis teknologi dan informasi. Hal ini terjadi karena salah satu kelemahan dalam menerapkan metode atau strategi dalam proses pembelajaran. E. Mulyasa (2008: 38) mengatakan bahwa,”Persoalan-persoalan selalu menyelimuti dunia pendidikan sampai saat ini adalah seputar tujuan dan hasil yang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat, metode pembelajaran yang statis dan kaku, sikap mental pendidik yang dirasa kurang mendukung proses dan materi pembelajaran yang tidak progresif”.
Mukhotim El Mukri juga mengamati
adanya kelemahan-kelemahan pendekatan yang digunakan. Ia mengatakan bahwa
pendekatan yang digunakan masih cenderung normatif. Kurang kreatifnya guru
Agama dalam mengganti metode yang biasa dipakai untuk pendidikan agama
menyebabkan pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton.
Seperti halnya pada pembahasan sifat-sifat
wajib bagi Allah dari masa ke masa selalu menggunakan cara-cara lama sehingga
membuat siswa tampak bosan, jenuh, dan kurang bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran sifat-sifat wajib bagi Allah. Seharusnya seorang guru agama harus
lebih kreatif dalam menggali metode yang bisa diterapkan untuk pendidikan
agama, sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak monoton. Ini adalah sebuah
realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa,
walaupun sebenarnya materi yang disampaikan tidak terlalu menarik. Sebaliknya,
materi yang cukup menarik jika disampaikan dengan cara yang kurang menarik,
maka materi tersebut kurang dapat dicerna oleh siswa. Dampak jika hal tersebut
tidak segera diatasi dikhawatirkan siswa menganggap tidak pentingnya
pembelajaran sifat-sifat wajib bagi Allah, sehingga dapat berpengaruh terhadap
kehidupan spiritualnya.
Pada saat ini, pembelajaran kebanyakan
menggunakan pendekatan konvensional yang berpusat pada guru, seperti; (a)
pengajaran bersifat tradisi, (b) menyampaikan materi melalui ceramah tanpa
modifikasi, (c) hanya guru yang aktif, sedangkan siswanya pasif.
Oleh karenanya secara umum seluruh
praktisi pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam perlu melakukan inovasi
dan kreatifitas sehingga tujuan Pendidikan Islam dapat tercapai. Strategi model
PAIKEM merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bila diterapkan
secara tepat berpeluang dalam meningkatkan tiga hal; Pertama, maksimalisasi
pengaruh fisik terhadap jiwa; kedua, maksimalisasi pengaruh jiwa terhadap
proses psikofisik dan psikososial; dan ketiga, bimbingan ke arah pemahaman
kehidupan spiritual.
PAIKEM singkatan dari pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pengertian secara bahasa, istilah
aktif yaitu pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara
fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Inovatif artinya gagasan,
teknik, dan sebagainya yang bersifat baru. Kreatif artinya menggunakan
hasil/kreasi baru atau yang berbeda dengan sebelumnya. Efektif yaitu berhasil
guna, jika mencapai sasaran atau mencapai kompetensi dasar yang telah
ditetapkan sebagaimana pentingnya pangalaman hal baru yang didapat siswa.
Sedangkan menyenangkan yaitu suatu kepuasan jiwa setelah berusaha meraih apa
yang didapat disertai dengan bukti prestasi belajar yang gemilang. (Ida Rosyidah,
2009: 6).

No comments:
Post a Comment
Tolong commentnya berhubungan dengan artikel yang ditulis