Selamat Datang di Blog Kang Djoen 'berbagi untuk negeri'

Sunday, October 7, 2012

PAI DENGAN "PAI-KEM"

        Perkembangan teknologi informasi dalam era globalisasi membawa pengaruh perubahan yang signifikan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Dunia pendidikan mempunyai tantangan yang sangat berat karena dituntut untuk dapat melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya mampu menguasai teknologi dan informasi agar dapat bersaing di dunia internasional akan tetapi juga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. 
     
Di sisi lain minat siswa terhadap materi sifat-sifat wajib bagi Allah diakui sangat minim, mereka lebih suka dengan mata pelajaran berbasis teknologi dan informasi. Hal ini terjadi karena salah satu kelemahan dalam menerapkan metode atau strategi dalam proses pembelajaran. E. Mulyasa (2008: 38) mengatakan bahwa,”Persoalan-persoalan selalu menyelimuti dunia pendidikan sampai saat ini adalah seputar tujuan dan hasil yang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat, metode pembelajaran yang statis dan kaku, sikap mental pendidik yang dirasa kurang mendukung proses dan materi pembelajaran yang tidak progresif”. 
    Mukhotim El Mukri juga mengamati adanya kelemahan-kelemahan pendekatan yang digunakan. Ia mengatakan bahwa pendekatan yang digunakan masih cenderung normatif. Kurang kreatifnya guru Agama dalam mengganti metode yang biasa dipakai untuk pendidikan agama menyebabkan pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton. 
     Seperti halnya pada pembahasan sifat-sifat wajib bagi Allah dari masa ke masa selalu menggunakan cara-cara lama sehingga membuat siswa tampak bosan, jenuh, dan kurang bersemangat dalam mengikuti pembelajaran sifat-sifat wajib bagi Allah. Seharusnya seorang guru agama harus lebih kreatif dalam menggali metode yang bisa diterapkan untuk pendidikan agama, sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak monoton. Ini adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa, walaupun sebenarnya materi yang disampaikan tidak terlalu menarik. Sebaliknya, materi yang cukup menarik jika disampaikan dengan cara yang kurang menarik, maka materi tersebut kurang dapat dicerna oleh siswa. Dampak jika hal tersebut tidak segera diatasi dikhawatirkan siswa menganggap tidak pentingnya pembelajaran sifat-sifat wajib bagi Allah, sehingga dapat berpengaruh terhadap kehidupan spiritualnya. 
     Pada saat ini, pembelajaran kebanyakan menggunakan pendekatan konvensional yang berpusat pada guru, seperti; (a) pengajaran bersifat tradisi, (b) menyampaikan materi melalui ceramah tanpa modifikasi, (c) hanya guru yang aktif, sedangkan siswanya pasif. 
    Oleh karenanya secara umum seluruh praktisi pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam perlu melakukan inovasi dan kreatifitas sehingga tujuan Pendidikan Islam dapat tercapai. Strategi model PAIKEM merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bila diterapkan secara tepat berpeluang dalam meningkatkan tiga hal; Pertama, maksimalisasi pengaruh fisik terhadap jiwa; kedua, maksimalisasi pengaruh jiwa terhadap proses psikofisik dan psikososial; dan ketiga, bimbingan ke arah pemahaman kehidupan spiritual. 
    PAIKEM singkatan dari pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pengertian secara bahasa, istilah aktif yaitu pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Inovatif artinya gagasan, teknik, dan sebagainya yang bersifat baru. Kreatif artinya menggunakan hasil/kreasi baru atau yang berbeda dengan sebelumnya. Efektif yaitu berhasil guna, jika mencapai sasaran atau mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan sebagaimana pentingnya pangalaman hal baru yang didapat siswa. Sedangkan menyenangkan yaitu suatu kepuasan jiwa setelah berusaha meraih apa yang didapat disertai dengan bukti prestasi belajar yang gemilang. (Ida Rosyidah, 2009: 6).

No comments:

Post a Comment

Tolong commentnya berhubungan dengan artikel yang ditulis