Pada skema besar filsafat terdapat tiga aspek utama yang mendasari perspektif filafat dalam memandang setiap problem filsafat yang dihadapi. Ketiga aspek tersebut adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Masing-masing aspek ini mengkaji problem filsafat dengan cara pandang yang saling berbeda. Tulisan ini difokuskan pada pembahasan aspek aksiologi dalam konteks filsafat pendidikan.
Aksiologi dalam
skema besar filsafat berisi logika, etika dan estetika. Logika adalah
bagian ilmu filsafat yang mempelajari kesahihan premis-premis secara
benar dan tepat sesuai aturan-aturan logis matematis. Etika merupakan
bagian filsafat yang membicarakan problem nilai-nilai dalam kaitanya
dengan baik atau buruknya tindakan manusia secara individu maupun dalam
masyarakat. Sementara estetika sering diidentikkan dengan filsafat seni
yang dalam pengkajiannya diutamakan membahas dimensi keindahan dan nilai
rasa baik dalam karya seni, seni itu sendiri, maupun
pemikiran-pemikiran tentang seni dan karya seni.
Filsafat pendidikan merupakan
refleksi kritis dan filosofis terhadap urgensi dan keberadaan pendidikan
di pandang dari perspektif kefilsafatan hingga mencapai pemahaman
radikal dan menyeluruh tentang apa itu pendidikan. Dalam konteks
aksiologi, permasalahan pendidikan dapat dipersoalkan. Ketepatasasan
metode pembelajaran dalam pendidikan harus dapat diuji secara logis
matematis, dimana segala sesuatu yang pantas diajarkan biasanya menuntut
kepastian metodologi. Logika membantu perumusan materi-materi
pembelajaran dan menyeleksi apakah suatu materi layak atau tidak untuk
diajarkan. Pendidikan membutuhkan alat bantu berupa rasio akal budi,
yang dari rasio inilah prinsip-prinsip logika dapat muncul dan
dipelajari. Dalam ranah etika, pendidikan dirumuskan sebagai sarana
untuk mencapai tujuan etis. Tujuan yang dimaksud adalah menjawab
pertanyaan tentang pentingnya pendidikan yang sarat nilai dan isi moral
manusia. Melalui kajian etika, penentuan tujuan dan orientasi
pelaksanaan pendidikan dapat lebih jelas dan terarah. Sedangkan dimensi
estetika lebih mengarah pada bagaimana pendidikan dapat dirumuskan
sedemikian rupa sehingga penyampaian materi pendidikan dapat diterima
secara teratur dan tersistematisasi. Hal ini menunjukkan perlunya
nilai-nilai seni dalam pendidikan. Seni yang dimaksud adalah seni
mengajarkan atau seni menyusun argumentasi dan bahan ajar pendidikan.
Dengan demikian, dimensi aksiologi yang mempersoalkan nilai-nilai dalam
perspektif filsafat dapat menyumbang perumusan nilai-nilai etis yang
terkandung dalam pendidikan. Melalui kajian aksiologi, tujuan
penyelenggaraan pendidikan dapat dirumuskan guna mencapai cita-cita
pendidikan yang diarahkan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia.

No comments:
Post a Comment
Tolong commentnya berhubungan dengan artikel yang ditulis