Semenjak kedatangan Islam pada abad
ke-13 M hingga saat ini, fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam indonesia
masih ditandai oleh keadaan pemahaman yang bervariasi. Sejalan dengan pembidangan ilmu
dalam studi Islam, pendekatan studi Islam pun mengalami perkembangan, sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pendekatan
adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang
selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama Islam.
Islam dapat dilihat dalam beberapa aspek yang sesuai dengan paradigmanya.
Pendekatan interdisliner yang
dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut
pandang (perspektif). Dalam studi misalnya menggunakan pendektan sosiologis,
historis dan normatif secara bersamaan. Pentingnya penggunaan pendekatan ini
semakin disadari keterbatasan dari hasil-hasil penelitian yang hanya
menggunakan satu pendekatan tertentu. Misalnya, dalam mengkaji teks agama,
seperti Al-Qur’an dan sunnah Nabi tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan
tekstual, tetapi harus dilengkapi dengan pendekatan sosiologis dan historis
sekaligus, bahkan masih perlu ditambah dengan pendekatan hermeneutik misalnya.
Dari
kupasan diatas melahirkan beberapa catatan. Pertama, perkembangan pembidangan
studi islam dan pendekatannya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu
sendiri. Kedua, adanya penekanan terhadap bidang dan pendekatan tetentu
dimaksudkan agar mampu memahami ajaran islam lebih lengkap (komprehensif)
sesuai dengan kebutuhan tuntutan yag semakin lengkap dan komplek. Ketiga, perkembangan
tersebut adalah satu hal yang wajar dan seharusnya memang terjadi, kalau tidak
menjadi pertanda agama semakin tidak mendapat perhatian.
Contoh dalam penggunaan pendekatan
interdispiner adalah dalam menjawab status hukum aborsi. Untuk melihat status
hukum aborsi perlu dilacak nash Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Tentang larangan
pembunuhan anak dan proses atau tahap penciptaan manusia dihubungkan dengan
teori embriologi.
Sebagai tambahan Leonard Binder
secara implisit menawarkan beberapa pendekatan studi islam, yakni:
1) Sejarah
(history)
2) Antropologi
(anthrophology)
3) Sastra
islam dan arkeologi (islamic art and archeology)
4) Ilmu
politik (political science)
5) Filsafat
(philosophy)
6) Linguistik
7) Sastra
(literature)
8) Sosiology
(sociology)
9) Ekonomi
(economics)
Beberapa Pendekatan Interdisipliner
1. Pendekatan Filsafat
Filsafat berasal dari kata philo yang
berarti cinta dan kata shopos yang berarti cinta dan kata shopos yang
beraati ilmu atau hikmah secara etimologi filsafat berarti cinta terhadap ilmu
atau hikmah.Menurut istilah (terminologi)
filsafat islam adalah cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkan falsafah
dan menciptakan sikap positif terhadap falsafah islam. Istilah filsafat dapat ditinjau dari
dua segi berikut :
Segi
semantik; filsafat berasal dari bahasa arab yaitu falsafah. Dari bahasa Yunani
yaitu philosophia yaitu pengetahuan hikmah (wisdom). Jadi philosophia berarti
cinta pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebenaran. Maksudnya adalah orang
menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya dan mengabdikan dirinya kepada
pengetahuan.
Segi
praktis; filsafat yaitu alam pikiran artinya berfilsafat itu berpikir. Orang
yang berpikir tentang filsafat disebut filosof. Yaitu orang yang memikirkan
hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh di dalam tugasnya filsafat
merupakan hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran
dengan sedalam-dalamnya. Jadi filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan
sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Ruang lingkup filsafat
Filsafat merupakan induk dari segala ilmu
yang terdiri dari gabungan ilmu-ilmu khusus. Dalam perkembangan ilmu-ilmu khusus satu
demi satu memisahkan diri dari induknya yakni filsafat. Ruang lingkup filsafat
berdasarkan struktur pengetahuan yang berkembang dapat dibagi menjadi tiga
bidang,sebagai berikut,
1. Filsafat
sistematis terdiri dari:
2. Metafisika
3. Epistemologi
4. Metodologi
5. Logika
6. Etika
7. Estetika
8. Filsafat
khusus terdiri dari:
a) Filasafat
seni
b) Filsafat
kebudayaan
c) Filsafat
pendidikan
d) Filsafat
bahasa
e) Filsafat
sejarah
f) Filsafat
budi pekerti
g) Filsafat
politik
h) Filsafat
agama
i) Filsafat
kehidupan
j) Filsafat
nilai
9. Filsafst
keilmuan terdiri dari:
a) Filsafat
ilmu-sssssstik
b) Filsafat
psikologi
c) Filsafat
ilmu-ilmu social.
Dalam studi filsafat untuk memahami
secara baik paling tidak kita harus mempelajari lima bidang politik, yaitu:
a. Metafisika
b. Epistimologi
c. Logika
d. Etika
e. Sejarah
filsafat.
Dasar Pendekatan Filsafat Islam
Islam pada hakikatnya membawa
ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi,tetapi mengenai berbagai segi
dari kehidupan manusia. Sumber ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu
adalah alquran dan hadis.
Dalam kaitan ini diperlukan
pendekatan historis terhadap filsafat Islam yang tidak menekankan pada studi
tokoh,tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami proses dialektik. Filsafat
Islam sendiri keberadaanya menimbulkan pro dan kontra. Sebagian yang berpikiran
maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam. Bagi
mereka yang berpikiran tradisional kurang mau menerima filsafat.
Islam menjadi jiwa yang mewarnai
suatu pemikiran filsafat,itulah yang disebut filsafat Islam bukan karena orang
yang melakukan kefilsafatan itu orang muslim, tetapi dari segi obyek membahas
mengenai keislaman.
Perkembangan filsafat Islam pada
prinsipnya mampu bersaing dengan filsafat Barat. Dari kedua filsafat ini
ditambah dengan kajian Yahudi, maka tersusunlah sejarah pembahasan teoretis
filsafat Islam dengan filsafat klasik, pada pertengahan dan modern. Hubungan
filsafat Yunani dengan filsfat islam adalah sebagai berikut:
1) Pemikiran
filsafat Islam telah dipengaruhi oleh filsafat Yunani.
2) Para
filsuf muslim mengambil sebagian besar pandanganya Aristoteles.
3) Filsuf
muslim banyak mengagumi Plato dan mengikutinya pada berbagai aspek.
Hubungan filsafat Islam dengan
filsafat modern ,secara khusus terdapat berbagai usaha yang ditujukan untuk
menemukan hubungan antara keduanya,baik sumber maupun pengantar-pengantar
filsafat modern. Batasannya yaitu terdapat pola titik persamaan dalam pandangan
dan pemikiran.
Filsafat Islam juga dikatakn sebagai
ilmu karena di dalamnya terkandung pertanyaan ilmiah,yaitu bagaimanakah,
mengapakah, dan apakah, jawaban atas pertanyaan itu adalah sebagai berikut:
1) Pengetahuan
yang timbul dari pedoman yang selalu berulang-ulang.
2) Pengetahuan
yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat yang berlaju dalam
masyrakat.
3) Pengetahuan
yang timbul dari pedoman yang dipakai suatu hal dijadikan pegangan.
Konsep Filsafat Islam
1) Konsep
Ar-Razi
Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Al-
Razi lahir di Rai kota dekat Teheran pada tahun 862 M. Falsafahnya terkenal
dengan Lima Yang Kekal.[6]
a. Materi;
merupakan apa yang ditangkap panca indra tentang benda itu
b. Ruang
; karena materi mengambil tempat.
c. Zaman:
karena materi berubah-ubah keadaannya.
d. Adanya
roh
e. Adanya
Pencipta.
2) Konsep
Al Farabi
Abu Ali Husin Ibn Sina lahir di
Afsyana 980 M. di dekat Bukhara. Terkenal dengan
a. Falsafah
Jiwa,
b. Falsafah
Wahyu dan Nabi,
c. Falsafah
Wujud.
3) Konsep
Al Kindi
Ya’kub Ibn Ishaq Al Kindi berasal
dari Kindah di Yaman.tahun 796 M. terkenak dengan:
a. Falsafah
Ketuhanan
b. Falsafah
Jiwa
2. Pendekatan Sosiologi
a) Pengertian Pendidikan dengan pendekatan sosiologi
Sosiologi adalah ilmu tentang
kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan
masyarakat.Sosiologi didefinisikan secara luas sebagai bidang penelitian yang
tujuannya meningkatkan pengetahuan melalui pengamatan dasar manusia,dan pola
organisasi serta hukumnya.Sosiologi dapat juga diartikan sebagai suatu ilmu
yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan
serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Selanjutnya
sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam studi islam yang
mencoba untuk memahami islam dari aspek sosial yang berkembang dimasyarakat,
sehingga pendidikan dengan pendekatan sosiologis dapat diartikan sebagai sebuah
studi yang memanfaatkan sosiologi untuk menjelaskan konsep pendidikan dan
memecahkan berbagai problema yang dihadapinya. Pendidikan menurut pendekatan sosiologi
ini dipandang sebagai salah satu konstruksi sosial atau diciptakan oleh
interaksi sosial. Pendekatan sosiologi dalam praktiknya, bukan saja digunakan
dalam memahami masalah-masalah pendidikan, melainkan juga dalam memahami bidang
lainnya, seperti agama sehingga munculah studi tentang sosiologi agama.[7]
b) Agama dalam pendekatan sosiologi
Salah satu ciri utama pendekatan
ilmu -ilmu sosial adalah pemberian definisi yang tepat tentang wilayah telaah
mereka. Adams berpendapat bahwa studi sejarah bukanlah ilmu sosial,sebagaimana
sosiologi.Perbedaan mendasar terletak bahwa sosiologi membatasi secara pasti
bagian dari aktivitas manusia yang dijadikan fokus studi dan kemudian mencari
metode khusus yang sesuai dengan objek tersebut,sedangkan sejarahwan memiliki
tujuan lebih luas lagi dan menggunakan metode yang berlainan. Dengan
menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial, maka agama akan dijelaskan dengan
beberapa teori, misalnya agama merupakan perluasan dari nilai-nilai sosial,
agama adalah mekanisme integrasi sosial, agama itu berhubungan dengan sesuatu
yang tidak diketahui dan tidak terkontrol dan masih banyak lagi teori
lainnya.Pada intinya pendekatan ilmu- ilmu sosial menjelaskan aspek empiris
orang beragama sebagai pengaruh dari norma sosial. Tampak jelas bahwa
pendekatan ilmu-ilmu sosial memberikan penjelasan mengenai fenomena agama.
c) Agama dalam pendekatan fungsional-sosiologi
Teori fungsional memandang agama
dalam kaitan dengan aspek pengalaman yang mentransendensikan sejumlah peristiwa
eksistensi sehari hari, yakni melibatkan kepercayaan dan tanggapan terhadap
sesuatu yang berada diluar jangkauan manusia. Oleh karena itu secara sosiologis
agama menjadi penting dalam kehidupan manusia dimana pengetahuan dan keahlian
tidak berhasil memberikan sarana adaptasi atau mekanisme penyesuaian yang
dibutuhkan. Dari sudut pandangan teori fungsional, agama menjadi atau penting
sehubungan dengan unsur-unsur pengalaman manusia yang diperoleh dari
ketidakpastian, ketidakberdayaan dan kelangkaan yang memang merupakan
karakteristik fundamental kondisi manusia. Dalam hal ini fungsi agama adalah
menyediakan dua hal yaitu :
1. Suatu cakrawala pandang tentang dunia luar yang tidak
terjangkau oleh manusia.
2. Sarana ritual yang memungkinkan hubungan manusia dengan hal
diluar jangkauanya.yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia
mempertahankan moralnya.
Dari sini kita dapat menyebutkan fungsi agama,antara lain:
1. Agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang diluar
jangkauan manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan, dan terhadap
manusia memberikan tanggapanserta menghubungkan dirinya menyadiakan bagi
pemeluknya suatu dukungan dan pelipur lara.
2. Agama manawarkan hubungan transendetal melalui pemujaan pada
upacara ibadat.
3. Agama mensucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah
terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok diatas keinginan individu
dan disiplin kelompok diatas dorongan individu.
4. Agama melakukan fungsi-fungsi identitas yang penting.
5. Agama bersangkut paut pula dengan pertumbuhan dan kedewasaan
individu dan perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan oleh
masyarakat.
Jadi menurut teori fungsional, agama mengidentifikasikan
individu dengan kelompok, menolong individu dalam ketidakpastian, menghibur
ketika dilanda kecewa, mengaitkannya dengan tujuan-tujuan masyarakat,
memperkuat moral, dan menyediakan unsur-unsur identitas.
Seperti halnya teori sosiologi tentang agama, teori
fungsional juga berusaha membangun sikap bebas nilai. Teori ini tidak menilai
kebenaran tertinggi atau kepalsuan kepercayaan beragama. Sebagaimana semua
sosiologi, teori ini juga menggunakan apa yang disebut pendekatan
“naturalistis”pada agama.Sebagai ilmu sosial,sosiologi berusaha memahami
perilaku diri sebab akibat yang alamiah. Ini bukan merupakan posisi ideologi
yang anti agama, sebab jika penyebab itu diluar alam, bila mereka bertindak
terhadap manusia harus juga melalui manusia dan hakikat manusia.
Salah satu sumbangan yang paling berharga dari teori
fungsional ialah ia telah mengarahkan perhatian kita pada karakteristik agama
yang menawarkan sudut pandang lain darimana kita memulai studi sosiologis
terhadap agama dari sudut perspektif yang saling melengkapi. Teori fungsional
menitik beratkan arti penting”titik kritis”, dimana fikiran dan tindakan sehari
hari ditransendensikan dalam pengalaman manusia[8]
3. Pendekatan Sejarah
a) Pengertian pendekatan sejarah
Dalam bahasa Arab, kata sejarah
disebut tarikh yang secara harfiah berarti ketentuan waktu, dan secara istilah
berarti keterangan yang telah terjadi pada masa lampau / masa yang masih ada.
Dalam bahasa Inggris, kata sejarah merupakan terjemahan dari kata history yang
secara harfiah diartikan the past experience of mankind, yakni pengalaman umat
manusia di masa lampau.[9]
Jadi sejarah adalah ilmu yang
membahas berbagai masalah yang terjadi di masa lampau, baik yang berkaitan
dengan masalah sosial, politik ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, kebudayaan,
agama dan sebagainya.
Melalui pendekatan sejarah ini, ilmu
pendidikan Islam akan memiliki landasan sejarah yang kuat sehingga terjadi
hubungan dan mata rantai yang jelas antara pendidikan yang dilaksanakan
sekarang dengan pendidikan yang pernah ada di masa lalu. Bangunan ilmu pendidikan
Islam yang didasarkan pada pendekatan sejarah akan memiliki landasan yang lebih
realistis dan empiris, karena bertolak dari praktik pendidikan yang benar-benar
telah terjadi. Ilmu pendidikan Islam dengan pendekatan sejarah merupakan sebuah
bentuk apresiasi atas berbagai peristiwa masa lalu untuk digunakan sebagai
bahan renungan dan pelajaran bagi pengembangan ilmu pendidikan Islam di masa
lalu.[10]
b) Studi Islam dengan Pendekatan Sejarah
Melalui pendekatan sejarah ditemukan informasi sebagai
berikut:
1. Sejak
kedatangan Islam, umat Islam tergerak hati, pikiran dan perasaannya untuk
memberikan perhatiannya yang besar terhadap penyelenggaraan pendidikan.
2. Model
lembaga pendidikan Islam yang diadakan oleh umat Islam adalah model lembaga
pendidikan informal, non formal dan formal.
3. Lembaga
pendidikan yang dibangun umat Islam bersifat dinamis, kreatif, inovatif,
fleksibel dan terbuka untuk dilakukan perubahan dari waktu ke waktu.
4. Melalui
pendekatan sejarah, diketahui bahwa di kalangan umat Islam telah terdapat
sejumlah ulama yang memiliki perhatian untuk berkiprah dalam bidang pendidikan
5. Melalui
pendekatan sejarah, dapat diketahui tentang kehidupan para guru dan pelajar.
6. Melalui
pendekatan sejarah, dapat diketahui tentang adanya sistem pengaturan atau
manajemen pendidikan, pendanaan atau pembiayaan pendidikan, mulai dari yang
sederhana sampai dengan yang canggih.
7. Melalui
pendekatan sejarah, dapat diketahui tentang adanya kurikulum yang diterapkan di
berbagai lembaga pendidikan yang disesuaikan dengan visi, misi, tujuan dan
ideologi keagamaan yang dimiliki oleh tokoh pendiri atau masyarakat yang
menyelenggarakan kegiatan pendidikan tersebut.
Pendekatan sejarah dalam mempelajari
Islam merupakan profil campuran, yakni sebagian dari praktik tersebut ada yang
dipengaruhi oleh sejarah dan ada pula yang dipengaruhi oleh adat istiadat dan
kebudayaan setempat. Praktik pendidikan dalam sejarah tidak selamanya
mencerminkan apa yang dikehendaki ajaran Al-Qur'an dan al-sunnah.
Informasi yang terdapat dalam
sejarah bukanlah dogma atau ajaran yang harus diikuti, melainkan sebuah
informasi yang harus dijadikan bahan kajian dan renungan, memilah dan memilih
bagian yang sesuai dan relevan untuk digunakan.[11]
IV. KESIMPULAN
- Pendekatan
adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang
selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama Islam.
Islam dapat dilihat dalam beberapa aspek yang sesuai dengan paradigmanya.
- Pendekatan
interdisipliner adalah sebuah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan
atau sudut pandang secara bersamaan sehingga akan mendapat hasil yang lebih
baik dibandingkan hanya menggunakan satu pendekatan saja.
- Istilah
filsafat dapat ditinjau dari dua segi:
1. Segi
semantik, perkatan filsafat berasal dari kata arab, yaitu falsafah;
2. Segi
praktis; dilihat dari pengertian praktisnya,filsafat berarti alam pikaran;
- Ada
berapa ciri filsafat yaitu;
1. Persoalan
filsafat bercorak sangat umum;
2. Persoalan
filsafat tidak bersifat empiris;
3. Menyangkut
masalah asasi
- Pendekatan
sosiologi merupakan sebuah studi yang memanfaatkan sosiologi yaitu ilmu yang
mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat untuk menjelaskan
konsep pendidikan dan memecahkan berbagai problema yang dihadapi.
- Pendekatan
sejarah dalam mempelajari islam merupakan profil campuran, yakni sebagian dari
praktek tersebut ada yag dipengaruhi oleh sejarah dan ada juga yang dipengaruhi
oeh adat istiadat dan kebudayaan seteempat. Praktik pendidikan dalam sejarah
tidak selamanya mencerminkan apa yang dikehendaki ajaran Al-Qur’an dan
As-sunnah.
- Informasi
yang terdapat dalam sejarah bukanlah dogma atau ajaran yang harus diikuti,
melainkan ebuah informasi yang harus dijaidikan bahan kajian dan renungan,
memilah dan memilihbagian yang sesuai dan relevan unuk digunakan.
V. PENUTUP
Demikianlah maklah ini kami sajikan kepada para pembaca,
diharapkan kiranya tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca tentang
syirkah. Tentunya kami sadar bahwa makalah kami jauh dari kata sempurna, karena
keterbatasan manusiawi kami. Untuk itu kami mengharap kepada pembaca sekalian
untuk memberikan ssaran yang konstruktif untuk kemajuan ilmu pengetahuan kita
bersama.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
M. Yatimin. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: Amzah, 2006.
Nasution,
Dr. H. Khoiruddin. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: ACAdeMIA +
TAZZAFA. 2009.
Nasution,
Harun. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Cet.9, Jakarta: Bulan
Bintang, 1995.
Nata,
Abuddin. Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, Normatif
Perenialis, Sejarah, Filsafat, Psikologi, Sosiologi, Manajemen, Teknologi,
Informasi, Kebudayaan, Politik, Hukum, Jakarta: Rajawali Press. 2009.
Nata,
Abuddin. Metodologi Studi Islam, cet. X , Jakarta: Raja Grafindo
Persada. 2006.
O’dea,
Thomas F. sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal. Jakarta: Rajawali
Press. 1992.
2
Prof. Dr. H. Khoiruddin Nasution,MA, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta:
ACAdeMIA + TAZZAFA, 2009,hlm. 230-232
[6] Harun
Nasution. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Cet.9, Jakarta:
Bulan Bintang, 1995, hlm. 21.
[7] Abuddin
Nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, Normatif
Perenialis, Sejarah, Filsafat, Psikologi, Sosiologi, Manajemen, Teknologi,
Informasi, Kebudayaan, Politik, Hukum, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm.
203
No comments:
Post a Comment
Tolong commentnya berhubungan dengan artikel yang ditulis