I. Pendahuluan
- Filsafat Metafisika. Filsafat yang berasal dari bahasa Yunani ' Philoshopia': secara harfiah, Philo: cinta, Shopia: hikmah, kebijakan. Tetapi menurut al-Shaibani, filsafat bukanlah hikmah itu sendiri melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Dalam ungkapan Arabnya yang lebih "asli" cabang ilmu tradisional Islam ini disebut 'Ulum al-Hikmah atau secara singkat "al-H}ikmah", padanan dari kata Yunani "sophia" yang artinya kebijaksanaan. Selain itu filsafat juga dapat pula diartikan mencari hakekat sesuatu, menemukan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Adapun tujuan berfilsafat adalah menemukan kebenaran yang sebenarnya yang dirumuskan secara sistematis yang kemudian dinamakan sistematika filsafat. Salah satu cabang dari filsafat itu adalah "metafisika", yaitu filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisik, tentang hakekat yang ada yang bersifat transenden, di luar atau di atas kemampuan manusia. Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu kelihatan sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai spekulasi tentang hakikatnya. Semua teori ilmiah hampir semuanya bersifat metafisik. Dan menurut Comte, cara berfikir metafisik sebenarnya adalah pergantian saja dari cara berfikir teologis. Baginya cara berfikir manusia harus keluar dari tradisi teologis maupun metafisik untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai sarana mencari kebenaran. Bidang filsafat metafisika (al-Falsafah al-Ula dalam bahasa Aristoteles dan kadang-kadang ia menggunakan istilah "Ilmu Ketuhanan") ini pula yang banyak dipersoalkan oleh kalangan ortodok seperti Ibn Taimiyah, karena dalam banyak hal menyangkut bidang yang bagi mereka merupakan wewenang agama. Dalam makalah singkat ini akan dikemukakan pembicaraan tentang filsafat metafisika ( Ma ba'da al-Tabiah), secara khusus tentang dalil adanya tuhan dari para filsul Yunani dan filsuf muslim.
- Hellenisme dan Problem Metafisika Yunani. Pengaruh Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani yang "pagan" atau mushrik- yang kemudian menjadi polemik di kalangan sarjana muslim- ikut mewarnai pemikiran filsafat Islam. Namun demikian, terdapat pemikiran filsafat yang orisinil berasal dari filosof muslim, seperti Ibn Rushd dari Spanyol (520-595 H/ 1126-1198 M) dengan filsafat Profetiknya (kenabian, yang merupakan trade mark filsafat Islam) yang tidak kita peroleh dari karya-karya Yunani. Juga ada Ibn Bajah dari Spanyol (w. 533 H/1138 M) dan Ibn Tufail dari Spanyol (w. 581 H/1185 M).Interaksi intelektual orang-orang Islam dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch dan Ephesus (Siria), Harran (Mesopotamia) dan Jundisapur (Persia). Di tempat-tempat itulah lahir dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan penerjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno dan memperoleh dukungan dari para penguasa Muslim.Dunia filsafat yang dihuni oleh para filsuf mengetengahkan berbagai konsep metafisik tentang hakekat yang sebenarnya di balik alam ini. Kegiatan bidang filsafat ini diawali oleh para filsuf Yunani kuno mulai dari angkatan pra-Sokrates (Thales, Anaximenes, Pythagoras, Xenophanes, Heroklitos, Parmanides, Empedokles, Anaxagoras, Demokritos), zaman Sokrates (masa Sofisme, Sokrates, Plato dan Aristoteles) sampai ke zaman Hellenisme.Secara garis besar, pendapat-pendapat mereka yang berkenaan dengan dunia metafisik kelompokkan menjadi tiga kelompok besar :
- Faham Monisme, satu faham yang mengatakan bahwa hakekat segala sesuatu ini berasal dari unsure tunggal,
- Dualisme, satu faham yang berpendapat bahwa unsur pokok segala sesuatu di alam ini dua.
- Pluralisme, bahwa unsur segala sesuatu di dunia ini banyak. Di samping mencoba mencari pemecahan rasional mengenai hakekat segala sesuatu di balik alam nyata ini, mereka juga mengetengahkan konsepsi "Tuhan". Namun harus dibedakan antara konsepsi metafisik yang bersifat religi dengan yang non-religi. Thales (625-545 SM) misalnya, berpendapat bahwa asal segala sesuatu ini adalah "air" (monisme), tetapi ia tidak menyatakan bahwa air adalah Tuhan. Dualisme berpendapat bahwa asal segala sesuatu ini dari dua unsur; roh dan materi, tetapi ini tidak menyatakan bahwa dua unsur tersebut adalah Tuhan. Sedangkan konsep metafisik yang bersifat religi adalah konsep yang di dalamnya memasukkan masalah ketuhanan. Dari para filsuf Yunani, beberapa di antaranya akan diturunkan dalam pembahasan ini.
1. Filsafat Metafisika adalah yaitu
filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisik, tentang hakekat yang ada yang
bersifat transenden, di luar atau di atas kemampuan manusia.
2. Filsafat Islam mendapat pengaruh
dari pemikiran Yunani ( Hellenisme ). Walaupun demikian ada filasafat yang
murni dari hasil pemikiran filosof Muslim, yaitu filsafat Profetik atau
kenabian.
3. Filsafat Metafisika Yunani berkisar
tentang Faham: Monisme, satu faham yang mengatakan bahwa hakekat segala sesuatu
ini berasal dari unsur tunggal, Dualisme, satu faham yang berpendapat bahwa
unsur pokok segala sesuatu di alam ini dua, Pluralisme, bahwa unsur segala
sesuatu di dunia ini banyak.
No comments:
Post a Comment
Tolong commentnya berhubungan dengan artikel yang ditulis