Alkisah di sebuah Perguruan Tinggi Swasta,
seorang mahasiswi yang tak begitu cantik mengeluh atas perlakuan dosennya yang
tidak berlaku adil dan tidak menghargai apa yang telah dikerjakannya. Ceritanya
seperti ini, suatu hari mahasiswi tersebut menemui seorang dosen, maksudnya mau
menanyakan usulan proposal judul skripsinya yang tempo hari telah disimpannya
di meja dosen tersebut untuk diperiksa. Namun, apa yang di dapat oleh mahasiswi
tersebut proposal usulan skripsinya “nyasar” di mukanya karena dilempar oleh
dosen bersangkutan dengan alasan mahasiswa tersebut tidak bisa menjawab
beberapa pertanyaan dosennya berkenaan dengan isi proposalnya. Lebih-lebih
tambah sakit hatinya mahasiswi tersebut adalah perlakuan diskriminatif dosen
bersangkutan terhadap pelayanan kepada mahasiswanya. Apabila mahasiswi yang
datang parasnya cantik, ayu sikap dosen tersebut lebih komunikatif, resfonsif
dan lemah lembut berbeda kalau yang menghadapnya mahasiswi yang parasnya “Nilai
5 bahkan 4”, dicuekinnya, dimarahinnya ya seperti yang di alami mahasiswi tadi
dan hal ini dialami juga oleh mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Bahkan sampai
muncul “isu” dari kalangan mahasiswa bahwa untuk meraih hati dosen tersebut
harus dengan istilah“ kudu diparab awewe geulis Si Eta mah, kakara daek resfon”.
Fenomena
kisah di atas, tentu saja menjadi bahan pertanyaan besar Apakah Etika seorang
dosen harus seperti itu ?, Sementara yang namanya seorang dosen adalah panutan
bagi mahasiswanya, sebagai figur yang memiliki kepedulian tinggi terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan dan lingkungannya, berpikir, bersikap, dan
berperilaku sebagai anggota masyrakat ilmiah, luhur budi, jujur, bersemangat,
bertanggung jawab dan menghindari perbuatan tercela. Selain itu seorang dosen
merupakkan seorang pendidik yang harus
membimbing dan mendidik mahasiswa ke arah pembentukan kepri badian insan
terpelajar yang mandiri dan bertanggung jawab. Seorang dosen harus bersikap dan
bertindak adil terhadap mahasiswa, memperlakukan mahasiswa sebagai manusia
dewasa. Dosen Harus memperlakukan
mahasiswa secara sama, tanpa memandang status sosial, agama, ras apalagi kecantikan
atau ketampanan mahasiswanya.
Mudah-mudahan
tulisan ini bisa menjadi kontribusi positif kepada para dosen dan pendidik
khususnya dan umumnya bagi kita semua untuk senantiasa mengedepankan rasa
keadilan terhadap orang lain, tidak diskriminatif, mengedepankan etika dan
akhlaqul karimah dan menghargai orang lain. Oleh karena itu, jadilah Uswah bagi
peserta didiknya.
No comments:
Post a Comment
Tolong commentnya berhubungan dengan artikel yang ditulis